Strategi permainan, merupakan strategi alternatif penyelenggaraan bimbingan karir. Strategi ini berlangsung melalui permainan, yang segaligus dalam setiap permainan dapat menjangkau beberapa matra sasaran. Permainan adalah suatu perbuatan atau kegiatan sukarela, yang dilakukan dalam batas-batas ruang dan waktu tertentu yang sudah ditetapkan, menurut aturan yang sudah diterima secara sukarela tapi mengikat sepenuhnya, dengan tujuan dalam dirinya sendiri, disertai oleh perasaan tegang dan gembira, dan kesadaran lain daripada kehidupan sehari-hari (Johan Huizinga, 1990: 39). Definisi tersebut menyiratkan bahwa permainan memiliki ciri-ciri khas yang membedakannya dengan kegiatan dalam kehidupan yang lain. Ciri-ciri khas dimaksud adalah:
(1) permainan adalah perbuatan yang bebas, artinya permainan dapat ditangguhkan atau dikesampingkan setiap saat; karena ia dilakukan tanpa paksaan/tuntutan fisik apalagi kewajiban moral, sehingga permainan melampaui jalannya proses alami;
(2) permainan bukanlah perikehidupan yang biasa atau yang sesungguhnya; ia merupakan suatu perbuatan keluar dari sesungguhnya, dalam suasana kegiatan yang sementara dengan tujuan tersendiri;
Read the rest of this entry »
Kenakalan merupakan istilah yang diberikan oleh orang dewasa terhadap perilaku yang dianggap menyimpang, salah, tidak sesuai, tidak tepat, atau melanggar dari aturan atau norma. Aturan yang ada dibuat berdasarkan pengalaman dan harapan orang dewasa terhadap tampilan perilaku yang seharusnya dapat ditampilkan oleh seorang anak atau remaja. Norma yang yang menjadi patokan merupakan seperangkat aturan tidak tertulis yang disepakati bersama oleh orang dewasa sebagai perilaku yang seharusnya ditampilkan oleh seseorang.
Pada dasarnya aturan atau norma merupakan aturan atau norma yang bersifat sepihak karena anak atau remaja yang dikenai aturan atau norma tidak pernah terlibat serta untuk menyusun atau mengembangkan. Karena anak/ remaja merasa tidak terlibat atau tidak memiliki, anak melakukan perilaku sendiri berdasarkan pemikiran dan perasaannya. Penilaian atau sebutan ‘nakal’pun dikenakan oleh orang tua atau orang dewasa terhadap perilaku yang diaktualisasikan anakremaja yang tidak sesuai dengan apa yang telah diatur. Perilaku kenakalan yang mengarah pada tindakan yang merugikan atau menganiaya diri sendiri atau orang lain dapat berubah menjadi tindak kriminalitas atau kejahatan. Anak atau remaja dapat terjebak menjadi melakukan tindak kejahatan manakala tidak mampu mengelola emosi, memiliki keterikatan yang sangat kuat terhadap kelompok teman sebaya atau menikmati hasil dari tindakan.
Read the rest of this entry »
Bayangkan sebuah sesi konseling dengan konseli yang bersikap negatif bahkan menolak sesi konseling, atau konseli yang menutupi masalah yang sesungguhnya, atau bahkan konseli yang tidak mengetahui apa sesungguhnya masalah yang ia hadapi. Bayangkan juga sebuah sesi konseling yang terasa membosankan dan tidak membuat banyak kemajuan bagi konseli. Menghadapi keadaan seperti ini, apa yang dapat konselor lakukan untuk membantu konseli? Interaksi konseling seperti apa yang dapat diciptakan konselor agar konseli dapat terlibat aktif selama sesi konseling? Bagaimana menciptakan sesi konseling yang efektif?
Terdapat 7 kesalahan yang umum dilakukan konselor yang menyebabkan sesi konseling menjadi membosankan dan tidak efektif (Jacobs,1994), yaitu:
1. Melakukan refleksi terlalu banyak daripada yang diperlukan.
2. Mendengarkan terlalu banyak cerita konseli.
3. Jarang menginterupsi konseli.
4. Tidak fokus dalam sesi konseling.
5. Menunggu terlalu lama untuk melakukan fokus atau funnel.
6. Tidak menggunakan teori konseling, menggunakan “hope method” dalam konseling
7. Jarang menggunakan alat bantu yang kreatif dan tidak bersifat multisensori.
DESKRIPSI KASUS
Lia (bukan nama sebenarnya) adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Kota Magelang, yang baru naik ke kelas IX. Ia berasal dari keluarga petani yang “terbilang cukup” secara sosial ekonomi di desa pedalaman +/- 17 km di luar kota Magelang.
Sebagai anak pertama, semula orang tuanya berkeberatan setamat SD Lia melanjutkan ke SMP Negeri 5 Magelang. Sebagai anak wanita, orang tuanya berharap agar Lia tidak perlu bersusah-susah melanjutkan sekolah ke kota. Tapi atas bujukan wali kelas Lia saat pengambilan STTB SD, dengan berat hati mereka merelakan anaknya melanjutkan sekolah di Kota Magelang. Pertimbangan wali kelasnya karena Lia terbilang cerdas diantara teman-teman yang lain sehingga wajar jika bisa diterima di SMP Negeri 5 Magelang, yang tergolong sekolah Favorit di Kota Magelang.
Sejak diterima di SMP Favorit di Kota Magelang di satu fihak Lia bangga sebagai anak desa toh bisa diterima, tetapi di lain fihak mulai minder dengan teman-temannya yang sebagian besar dari keluarga kaya dengan pola pergaulan yang begitu beda dengan latar belakang Lia yang anak desa. Ia menganggap teman-teman dari keluarga kaya tersebut sebagai orang yang egois, kurang bersahabat, pilih-pilih teman yang sama-sama dari keluarga kaya saja, dan sombong. Makin lama perasaan ditolak, terisolik, dan kesepian makin mencekam dan mulai timbul sikap dan anggapan sekolahnya itu bukan untuk dirinya sehingga dia tidak krasan. Mau keluar Lia merasa malu baik terhadap orang tua, terlebih teman-temannya sekampung. Sementara jika terus bertahan, susah tak ada/punya teman yang peduli. Dasar saya anak desa, anak miskin (dibanding teman-temannya di kota) hujatnya pada diri sendiri. Akhirnya benar-benar menjadi anak minder, pemalu dan serta ragu dan takut bergaul sebagaimana mestinya. Makin lama nilainya makin jatuh sehingga beban pikiran dan perasaan makin berat, sampai-sampai ragu apakah bisa lulus SMP atau tidak.
Read the rest of this entry »
A. Konsep Dasar
Manusia padasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif.Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari.Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka, sangat personal, dan irasional.Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat.Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis, yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional.
Read the rest of this entry »
Peran guru bimbingan dan konseling ataupun konselor penting untuk menyelenggarakan pendidikan yang utuh. Pentingnya peran pendampingan dan konseling disebabkan pendidikan masih dimaknai secara sempit. Rektor UPI yang mantan Ketua Umum Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (Abkin) Sunaryo Kartadinata mengatakan, pendidikan utuh yang dimaksud adalah pendidikan yang tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademis, tetapi juga mengembangkan karakter dan kepribadian peserta didik.
Di sinilah peran guru bimbingan dan konseling, yaitu membantu peserta didik mengenali potensi dan mengembangkan kepribadiannya, tuturnya di hadapan sekitar 200 peserta seminar nasional Profesionalisme Guru Bimbingan & Konseling dan Konselor yang diselenggarakan Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, bekerja sama dengan Abkin dan harian Kompas, Rabu (7/10).
Menurut Sunaryo, peran guru bimbingan konseling dan konselor semakin penting karena saat ini penyelenggaraan pendidikan di Indonesia masih dalam makna sempit. Pendidikan hanya cenderung untuk meningkatkan kemampuan akademis semata. Pendidikan juga belum menanamkan kecerdasan kultural kepada peserta didik sehingga potensi bangsa kurang tergali. Pendidikan Indonesia saat ini juga belum bisa membentuk watak dan karakter bangsa. Pendidikan di Indonesia baru sampai pada tujuan mencerdaskan anak didik secara individual saja. Padahal, kecerdasan suatu bangsa tidak terbentuk dari penjumlahan kecerdasan dari setiap warganya, ujarnya.
Read the rest of this entry »
Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.
Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.
Read the rest of this entry »
Ada sesuatu yang sangat menarik di dalam Sarasehan Nasional yang diselenggarakan oleh Penyiar Shalawat Wahidiyah (PSW) di Pondok Pesantren At Tahdzib, Rejoagung, Ngoro, Jombang, 26/06/2010. Selain pesertanya yang memang berasal dari seluruh Indonesia, juga terdapat pembicaraan menarik tentang bagaimana membangun Indonesia di masa depan. Di antara perbincangan menarik tersebut terkait dengan pendidikan karakter bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasar pada Pancasila dan UUD 1945.
Di dalam kesempatan ini, KH. Ruhan Sanusi, Ketua Umum DPP Penyiar Shalawat Wahidiyah menyatakan bahwa di dalam pembangunan bangsa ini seharusnya berdasar atas prinsip Lillah Billah. Prinsip tersebut merupakan ajaran pokok yang mendasar dari Penyiar Shalawat Wahidiyah. Jadi, melalui prinsip Lillah Billah ini, maka akan dihasilkan orang yang memiliki pengabdian kepada Allah, Rasulullah dan juga pengabdian kepada umat manusia.
Read the rest of this entry »
Pendidikan karakter kini memang menjadi isu utama pendidikan. Selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa, pendidikan karakter ini pun diharapkan mampu menjadi pondasi utama dalam mensukseskan Indonesia Emas 2025. Di lingkungan Kemdiknas sendiri, pendidikan karakter menjadi fokus pendidikan di seluruh jenjang pendidikan yang dibinannya. Tidak kecuali di pendidikan tinggi, pendidikan karakter pun mendapatkan perhatian yang cukup besar. Beberapa waktu lalu (1/06) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengadakan Rembuk Nasional dengan tema “Membangun Karakter Bangsa dengan Berwawasan Kebangsaan”. Acara yang digelar di Balai Pertemuan UPI ini, dibidani oleh Pusat Kajian Nasional Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan UPI.
Read the rest of this entry »
Dalam proses konseling, seorang konselor dituntut untuk dapat menunjukkan perilakunya secara efektif, baik perilaku verbal maupun non verbal. Barbara F. Okun (Sofyan S. Willis, 2004) telah mengidentifikasi beberapa perilaku verbal non verbal konselor yang efektif dan tidak efektif sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini:
Penyebab dari kecemasan-kecemasan yang kalian alami harus kita temukan solusinya. Untuk hal ini kalian harus jujur kepada diri sendiri, artinya kalian tidak bisa berpura-pura atau menutup-nutupi sesuatu yang bikin kalian cemas, betapapun kecilnya penyebabnya itu. Misalnya saja, kalian hidup berdua dalam satu kamar, yang satu tidak bisa tidur yang kalau lampu dimatikan sedangkan yang satu sebaliknya. Jika hal ini tidak dikomunikasikan dan dicarikan solusinya, apalagi saling dipendam, maka bukan mustahil timbul masalah yang menjadi pemicu stress dan akhirnya bukan tidak mungkin saat-saat tidur bukan lagi menjadi saat-saat yang menyenangkan tetapi menjadi saat-saat yang meresahkan. Kenali sumber masalahnya, kamu akan tahu solusinya. Tuangkan segala kecemasanmu, lebih baik lagi dalam tulisan sehingga lebih detail dan tidak ada yang tertinggal. Atau sharing (berbagilah) dengan orang-orang yang terdekat dengan kamu, keluarga, teman yang lebih senior dan sebagainya.Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasinya, paling tidak meminimalkan kecemasan kita.
Read the rest of this entry »
Kenapa pendidikan yang kini tumbuh berkembang pesat, justru berefek samping melahirkan banyaknya koruptor dan teroris, walaupun tidak seluruh anak bangsa menjadi koruptor dan teroris, tetapi mereka para pelaku korupsi justru orang-orang yang umumnya sudah menyandang berbagai titel strata pendidikan. Apa yang salah dalam pendidikan kita?
Dalam hal kasus-kasus yang menyangkut kriminalitas, kejahatan, pembunuhan, teroris, mereka adalah orang-orang yang telah menikmati pendidikan cukup. Timbul pertanyaan, lalu apa yang masih kurang bagi mereka dan bangsa yang dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Esa, kekayaan yang berlimpah ini? Perlu direnungkan masalah-masalah pokok tersebut diatas yang pada dasarnya bermuara pada kurangnya pendidikan karakter bangsa.
Read the rest of this entry »